Thursday, February 5, 2015

Bos Pertamina Lapor ke Jokowi soal Petral

Bos Pertamina Lapor ke Jokowi soal Petral
JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) hari ini memanggil Dirut PT Pertamina Dwi Soetjipto ke Istana Negara. Kedatangan Dwi tersebut salah satunya melaporkan mengenai perkembangan PT Pertamina Energy Trading Limited (Petral).

Pihaknya melaporkan kepada Jokowi bahwa peran Petral dalam hal tender penjualan serta pengadaan impor minyak mentah dan BBM telah dialihkan kepada Intergrated Supply Chain (ISC) Pertamina.

"Kita lapor apa yang sudah kita lakukan. Jadi sudah banyak di Pertamina melakukan perubahan untuk langkah efisiensi. Di mana kalau kita lihat peran Petral sudah kita pindahkan langsung ke Pertamina lewat ISC," ujarnya di Istana Negara, Jakarta, Kamis (5/2/2015).

Lebih lanjut dia mengatakan, pelimpahan hak Petral untuk tender BBM yang dilimpahkan ke ISC merupakan bentuk efisiensi yang diklaim cukup membuahkan hasil signifikan.

"Sehingga, dengan demikian kita bisa mendapatkan upaya efisiensi yang cukup signifikan," terang Dwi.

Selain itu, mantan bos PT Semen Indonesia Tbk ini juga melaporkan kepada mantan Gubernur DKI Jakarta ini mengenai rencana Pertamina untuk membangun kilang minyak yang baru.

Seperti diketahui, perusahaan pelat merah ini berencana membangun dua kilang baru di Balikpapan dan Tuban untuk meningkatkan pasokan BBM. Selain itu, Pertamina juga akan meng-upgrade lima kilang yang sudah dimilikinya.

"Rencana pengembangan, bangun kilang dan sebagainya. Itu yang kita laporkan," pungkas Dwi.


sumber: sindonews.com

Pelimpahan Hak Tender Petral Ke ISC, Pertamina Klaim Sebagai Langkah Efisiensi















KE - Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Dwi Soetjipto menyatakan sebagai langkah efisiensi, tugas impor minyak dan Bahan Bakar Minyak (BBM) tidak lagi ditangani oleh PT Pertamina Energy Trading Limited (Petral).

Dwi menjelaskan saat ini yang mengemban tugas tersebut digantikan langsung ke Pertamina melalui Intergrated Supply Chain (ISC). Seperti dikutip dalam okezone.com

Dwi melanjutkan, dengan pelimpahan hak tender BBM Petral ke ISC, merupakan bentuk efisiensi yang diklaim cukup membuahkan hasil signifikan. Selain itu Pertamina berencana membangun dua kilang baru di Balikpapan dan Tuban untuk meningkatkan pasokan BBM. Selain itu, Pertamina juga akan mengupgrade lima kilang yang sudah dimilikinya.

Tidak hanya itu, mantan dirut PT Semen Indonesia ini juga melaporkan mengenai rencana untuk membangun kilang minyak yang baru. (At)


sumber: kabarenergi.com

Bos Pertamina Klaim Pengalihan Petral ke ISC-Pertamina Membuahkan Hasil Signifikan

Bos Pertamina Klaim Pengalihan Petral ke ISC-Pertamina Membuahkan Hasil Signifikan : aktual.co

"Pengalihan fungsi Petral-PES dilakukan sebagai langkah efisiensi. Saat ini peran Petral sudah kita pindahkan langsung ke ISC-Pertamina," ujar Dwi Soetjipto di Istana Merdeka, Kamis (5/2).

Jakarta, Direktur Utama PT Pertamina Dwi Soetjipto mengatakan bahwa tugas impor minyak dan bahan bakar minyak (BBM) saat ini tidak lagi dilakukan oleh PT Pertamina Energy Trading Limited (Petral-PES). Namun dialihkan ke Integrated Supply Chain (ISC-Pertamina).

"Pengalihan fungsi Petral-PES dilakukan sebagai langkah efisiensi. Saat ini peran Petral sudah kita pindahkan langsung ke ISC-Pertamina," ujar Dwi Soetjipto di Istana Merdeka, Kamis (5/2).

Dirinya mengklaim bahwa pelimpahan hak tender BBM Petral ke ISC cukup membuahkan hasil yang signifikan. Selain menyampaikan peralihan Petral ke ISC-Pertamina, dirinya juga menyampaikan rencana membangun kilang minyak yang baru.

"Kita juga melaporkan rencana untuk membangun kilang dan pengembangan lainnya," pungkasnya.

Untuk diketahui, PT Pertamina (Persero) mengungkapkan bahwa proses tender pengadaan minyak mentah yang dilakukan oleh Integrated Supply Chain (ISC) Pertamina sudah dilaksanakan dan telah menghasilkan dua pemenang yakni Socar dengan minyak mentah Azeri sebesar 2 juta barel dan Vitol dengan minyak mentah Nigeria sebesar 2 juta barel. Keduanya merupakan trader minyak mentah, sama halnya dengan Petral.

Menanggapi hal itu, Anggota Komisi VII DPR RI Kurtubi menyatakan ketidaksetujuannya jika Pertamina harus membeli minyak dari trader. Meskipun Pertamina telah mengklaim penunjukan itu sudah melewati mekanisme tender yang terbuka dan transparan, pengadaan minyak melalui trader bukanlah hal yang sejalan dengan langkah efisiensi.

"Katakanlah memang transparan, terbuka dan sesuai aturan. Lalu menang si A si B misalnya. Saya berpendapat tetap tidak efisien. Karena kalau yang menang ini trader, bukan produsen, yah pasti trader ini akan memperoleh fee, keuntungan. Padahal dia bukan penghasil minyak. Dia kan membeli minyak yang kita butuhkan dari produsen dan dari penghasil," terangnya.

Ia menegaskan, seyogyanya Pertamina sebagai badan usaha yang memiliki wewenang bertransaksi dimanapun, dapat membeli minyak langsung kepada produsen baik itu National Oil Company (NOC) ataupun International Oil Company (IOC).

sumber: aktual.co

Bos Pertamina 'Ngaku' Belum Tahu Hasil Tender ISC

Bos Pertamina 'Ngaku' Belum Tahu Hasil Tender ISC : aktual.co


"ISC kemarin udah tender, ada 53 perusahaan yang ikut. Kemudian sudah ditunjuk pemenangnya yaitu Socar dan Vitol. Harganya udah bagus itu," ujarnya.


Jakarta, Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Dwi Soetjipto mengaku belum menerima laporan terbaru terkait hasil pemenang tender pengadaan minyak mentah yang dilakukan oleh Integrated Supply Chain (ISC) Pertamina.

Perlu diketahui, tender Crude oil yang pertama sekali dilakukan oleh ISC Pertamina yang prosesnya terkesan sangat tertutup kabarnya telah menghasilkan pemenang tender yaitu Socar dengan minyak mentah Azeri sebesar 2 juta barel dan Vitol dengan minyak mentah Nigeria sebesar 2 juta barel.

"Iya prosesnya sudah berjalan tapi saya belum dapat update, sudah diumumkan atau belum," kata Dwi saat ditemui di gedung DPR RI, Jakarta, Senin (2/2).

Mantan dirut Semen Indonesia itu mengklaim bahwa tender tersebut merupakan tender terbuka dan bukan tender tertutup. Prosesnya sendiri diakui Dwi sudah cukup transparan.

"Terbuka kok, transparan itu. Informasinya lewat media," singkatnya sambil berlalu.

Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina, Ahmad Bambang mengakui bahwa proses tender sudah dilaksanakan dan telah menghasilkan dua pemenang yakni Socar dengan minyak mentah Azeri sebesar 2 juta barel dan Vitol dengan minyak mentah Nigeria sebesar 2 juta barel.

"ISC kemarin udah tender, ada 53 perusahaan yang ikut. Kemudian sudah ditunjuk pemenangnya yaitu Socar dan Vitol. Harganya udah bagus itu," ujarnya.

Proses Tender Perdana, Pengamat Minta ISC Pertamina Harus Transparan

Proses Tender Perdana, Pengamat Minta ISC Pertamina Harus Terbuka Pada Publik

Jakarta, EnergiToday-- Pengamat energi dari Reforminer Komiadi Notonegoro, mempertanyakan proses tender perdana 'Crude Oil' ISC-Pertamina yang terkesan dilakukan secara tertutup dan tidak transparan. "Semangatnya harus terbuka. Bukan hanya kepada Petral dan NOC lainya, kepada publik juga harus terbuka," kata Komaidi saat dihubungi wartawan, seperti dikutip dalam Tribunnews.com, Senin (02/02).

Menurutnya, jika keadaannya seperti itu maka kinerja ISC-Pertamina tidak lebih baik dari Petral. Menurutnya, Petral bisa lebih terbuka saat melakukan proses tender. Untuk itu dirinya meminta ISC-Pertamina melakukan tender terbuka, maka harus diumumkan di media atau paling tidak ada website online yang menyebutkan mereka punya kerjaan dengan spesifikasi yang lengkap.

Diketahui, proses tender perdana 'Crude Oil' ISC-Pertamina dibawah pimpinan Daniel Purba yang dilakukan pada 27 Januari lalu. Tender pengadaan minyak itu sendiri diketahui untuk memenuhi kebutuhan minyak dalam negeri periode April 2015. Setidaknya ada dua jenis minyak mentah sebanyak empat juta barel yang ditenderkan ISC-Pertamina, yakni minyak dari Azeri-Azerbaijan dan Qua Iboe/bonny light-Nigeria, informasi yang beredar ada peserta tender yang bukan NOC dimenangkan meskipun tidak memiliki penawaran terendah.

Hal ini sangat jauh Rekomendasi Tim Reformasi Tata Kelola Migas (RTKM) pimpinan Faisal Basri yang menekankan transparansi dalam reformasi migas dianggap tidak menyentuh esensi permasalahan tata kelola minyak dan gas bumi Indonesia. Lebih lanjut dikatakan Komaidi, rekomendasi yang diajukan Faisal Basri Cs masih bersifat makro dan tidak memiliki usulan-usulan yang dirinci secara jelas. Selain itu, lanjutnya, anggota Tim RTKM sendiri dinilai tidak paham dengan permasalahan utama terhadap pengelolaan sumber daya yang seharusnya menguntukan bagi rakyat Indonesia.

sumber: energitoday.com

Tender Minyak Pertamina ISC Menuai Kritik

99
Jakarta, Tak kunjung diumumkannya pemenang tender minyak mentah PT Pertamina melalui Integrated SupplyChain (ISC) serta proses tender yang cenderung tak transparan terus menuai kritik dari berbagai kalangan.

"Saya menangkap gelagat pemerintah ini hendak menjadikan BUMN sebagai lahan bancakan, khususnya Pertamina," kata pengamat ekonomi energi dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Salamuddin Daeng, seperti dikutip dalam Sindonews.com,  Jumat (30/01). Dugaan itu kemudian diperkuat dengan pembentukan Tim Reformasi Tata Kelola Migas oleh Menteri ESDM Sudirman Said yang setelah dibentuk tim tersebut langsung mengumumkan pembubaran Petral.

Salamuddin mengatakan, tujuan pengkerdilan Petral hanya untuk mengganti importir yang kabarnya memiliki kedekatan dengan penguasa. Tidak diumumkannya pemenang tender dan proses tender yang tidak transparan, pihaknya menilai pemerintah telah mengabaikan prinsip good corporate governance (GCG).

Pasalnya, tak dibeberkan ke publik jenis minyak apa saja yang diimpor, berapa harga yang ditawarkan, siapa saja peserta tender, dan apakah mereka trader atau langsung penghasil minyak.

sumber: energitoday.com

Diduga Tender Minyak Mentah ISC Tidak Transparan













JAKARTA - Anggota Komisi VII DPR RI Satya Widya Yudha mendesak PT Pertamina (Persero) dan Integrated Supply Chain (ISC) untuk menjelaskan secara rinci tender perdana crude oil yang sedianya dilakukan pada 27 Januari 2015, karena diduga tidak transparan. Tender itu untuk memenuhi kebutuhan minyak mentah periode bulan April 2015, dan terdapat dua Jenis minyak yaitu empat juta barel untuk jenis Azuri dan Qua Iboe-Nigeria. Namun, proses tender mulai dari pengumuman pemenang justru tidak terbuka, ini justru berbeda dengan pernyataan Kepala Tim Reformasi Tata Kelola Migas, Faisal Basri. "ISC-Pertamina harusnya transparan, kepada publik soal tender minyak mentah. Karena isu ini adalah isu sensitif dan berpotensi menggerus keuangan negara," tutur Satya. Menurutnya, publik harus ikut mengawasi jalannya tender minyak mentah, karena sesuai pernyataan Menteri ESDM Sudirman Said, Dirut Pertamina Dwi Soetjipto dan Tim Rencana Tata Kelola Migas Faisal Basri soal transparansi tender minyak. "ISC dibawah pimpinan Daniel Purba sudah seharusnya mengumumkan kepada publik terkait bagaimana mekanisme tender minyak mentah, berapa jumlahnya, bagaimana teknisnya," tuturnya. Seharusnya sebelum tender minyak di lakukan, harus mengumumkan terlebih dahulu, sehingga para peserta tender dapat melihat secara jelas teknis dan mekanisme yang dibutuhkan. Pengumuman juga dilakukan secara terbuka dengan melibatkan media atau website online yang bisa di akses publik. Berbeda jika tender tertutup karena hanya berdasarkan undangan masing-masing kontraktor.

sumber: beritaheadline

Tim RKTM dan ISC Hanya Pindahkan Sarang Mafia Migas?

Tim RKTM dan ISC Hanya Pindahkan Sarang Mafia Migas?














JAKARTA (voa-islam.com) - Saat ini ada dua hal yang paling krusial untuk dibuka secara jujur ke publik oleh Tim (Reformasi Tata Kelola Migas RKTM) dan Integrateg Supply Chain (ISC), yaitu terkait tender minyak mentah dan terkait perjanjian kerjasama dengan Sonangol, begitu dikemukakan Ferdinand Hutahaean Direktur Eksekutif Energy Watch Indonesia (EWI).
"Dua hal ini menjadi sangat penting karena ini akan menjadi barometer pertama bagi publik tentang kinerja ISC dan Tim Reformasi Tata Kelola Migas yang dipimpin oleh Faisal Basri," jelasnya seperti dikutip dari situs geoenergi.co, Jum’at (30/01/2015).

Dia mengeluhkan akan tidak adanya keterbukaan dari ISC tentang impor crude.
"Jika masih tertutup seperti ini, artinya tidak ada perubahan sama sekali dan menjadi bukti sah dugaan kita selama ini bahwa sekarang hanya memindahkan tempat bermain mafia dan pergantian mafia minyak dari mafia di petral  ke mafia di ISC," tuduhnya.
"Daniel Purba harusnya membuka semuanya ke publik. Jangan ditutupi supaya publik bisa mengawasi," tambahnya menuntut.

Menurut Ferdinand, sebaiknya Pertamina tidak menenderkan crude kepada trader. Semestinya Pertamina mengundang pihak-pihak produsen untuk mengikuti proses tender pengadaan crude, sehingga persaingan harga antara produsen yang diundang akan memberikan kita harga yg murah.
"Beda bila lewat trader, pasti harganya lebih mahal karena mereka akan mengambil margin lebih lagi. Inilah harusnya yang dilakukan. Tender terbatas bagi produsen minyak bukan tender kepada trader," koreksi Ferdinand.

Terkait dengan Sonangol, EWI berharap ISC juga harus terbuka ke publik.
"Mengapa itu tidak lewat tender? Apa ada perlakuan khusus? Tapi saya mendukung Pertamina langsung beli minyak ke produsen bukan lewat trader. Yang penting terbuka dan jujur ke publik," ujarnya.

Ferdinand mencontohkan seperti Sonangol.
"Kami dapat info bahwa kualitas minyaknya tidak begitu bagus. Artinya jika begitu harganya tentu harus lebih murah dari harga minyak biasanya. Tolong ISC terbuka tentang ini. Jangan ditutupi terus supaya kepercayaan  publik bisa didapat. Sekaligus Daniel Purba sebaga Kepala ISC buktikan bahwa mereka bukan bagian mafia. Ini penting. Jika mash tertutup saya pastikan mereka memang mafia," tantang Ferdinand memungkasi.


voa-islam.com

Pertamina-ISC Diminta Transparan Soal Tender Minyak

Gedung Pertamina
JAKARTA -- Direktur Energy Wacth Indonesia, Ferdinand Hutahaean mengatakan proses tender minyak mentah PT Pertamina yang dilakukan Integrated Supply Chain (ISC) di bawah pimpinan Daniel Purba, hingga kini belum juga diumumkan pemenangnya ke publik. Bahkan dalam prosesnya ISC dan Pertamina terkesan tertutup dan tidak transparan. 
Menurut Ferdinand, ISC mengabaikan rekomendasi tim RTKM Faisal Basri yang menginginkan transparansi di sektor migas. Informasi yang beredar dalam tender pengadaan minyak jenis Azuri dan Qua Iboe-Nigeria masing-masing sebesar dua juta barel telah dimenangkan tanpa menggunakan penawaran harga terendah.
"Penting bagi ISC-Pertamina untuk melakukan transparansi atau keterbukaan informasi tentang pengadaan minyak. Saat ini ada dua hal yang paling krusial untuk dibuka secara jujur ke publik, yaitu terkait tender minyak mentah perdana ISC dan perjanjian kerja sama dengan Sonangol," ujar direktur Energy Wacth Indonesia, Ferdinand Hutahaean di Jakarta, Sabtu (31/1).
‎Menurutnya, dua hal tersebut menjadi sangat penting karena akan menjadi barometer pertama bagi publik tentang kinerja ISC dan Tim Reformasi Tata Kelola Migas (RTKM) yang dipimpin oleh Faisal Basri itu. "Saat ini, ISC-Pertamina dipimpin Daniel Purba tidak ada keterbukaan terkait volume crude oil yang hendak diimpor, siapa peserta tendernya, mekanisme dan apa saja syarat yang ditentukan," tegasnya.
Menurutnya, jika ISC dan Pertamina masih tertutup seperti ini, artinya tidak ada perubahan sama sekali menjadi bukti sah bahwa selama ini tim RTKM Faisal Basri hanya memindahkan tempat bermain mafia.  Tim RTKM hanya melakukan pergantian mafia minyak dari mafia di Petral-PES ke mafia di ISC. "Daniel Purba sebagai VP ISC Pertamina harusnya membuka semuanya ke publik, jangan ditutupi supaya publik bisa ikut mengawasi," jelasnya.

sumber: republika.co.id

Tak Lagi Petral, ISC Masih Sembunyi-Sembunyi Impor Minyak

Tak Lagi Petral, ISC Masih Sembunyi-Sembunyi Impor Minyak
JAKARTA - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said dinilai tidak menjalankan perintah Presiden Joko Widodo. Hal itu terjadi lantaran tender minyak yang dilakukan oleh PT Pertamina (persero) tidak sesuai dengan rekomendasi Tim Reformasi Tata Kelola Migas.

Tim Reformasi Tata Kelola Migas merekomendasikan, pengadaan impor minyak harus terang-benderang setelah menempatkan fungsi dan wewenang Pertamina Energy Trading Limited (Petral) ke Integrated Supplay Chain (ISC). Ini pun dilakukan agar pasokan minyak diperoleh langsung ke jaringan operasi atau network operation center (NOC).

"Namun kenyataannya tender dilakukan sembunyi-sembunyi atau tidak sesuai rekomendasi. Tidak akuntabel, tidak fair serta tergesa-gesa," kata Ketua Umum Seknas Jokowi, Muhamad Yamin dalam keterangan tertulisnya, Jakarta Kamis (5/2/2015).

Menurut dia, jika terus dibiarkan, maka praktik tender itu berpotensi merugikan negara. Atas dasar itu, pihaknya meminta Direktur Pertamina Dwi Soetjipto kembali merombak manajemen ISC.

Sementara, Ketua Umum Barisan Relawan Jokowi (BaraJP) Sihol Manullang dengan tegas meminta Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) segera mengadakan audit investigasi atas pengadaan tender minyak oleh Pertamina.

"Supaya terang-benderang, kami meminta ketua Tim Reformasi Faisal Basri memublikasikan apa saja rekomendasi yang sudah atau belum dilakukan Kementerian ESDM," tandasnya.

Keduanya juga meminta Presiden Joko Widodo mengawasi setiap kebijakan Menteri ESDM jangan sampai bertentangan dengan Nawa Cita.

sumber: okezone

ISC Pertamina targetkan tender impor minyak Januari

ISC Pertamina targetkan tender impor minyak Januari
Ilustrasi - Dua pekerja berada di dalam Rumah Pompa Produk penyaluran BBM ke Surabaya, truk tanki dan kapal tanker di Terminal BBM (TBBM) Pertamina, Desa Remen Kecamatan Jenu Kabupaten Tuban, Selasa (28/10).
Jakarta Integrated Supply Chain PT Pertamina (Persero) menargetkan mulai menenderkan impor minyak mentah dan BBM pada Januari 2015.

Senior Vice President ISC Pertamina Daniel Purba di Jakarta, Jumat, mengatakan saat ini pihaknya masih mempersiapkan segala sesuatu terkait pelaksanaan tender tersebut termasuk aturan hukumnya.

"Kami sedang siapkan semua termasuk pembenahan prosedur di Pertamina. Mudah-mudahan Januari ini sudah mulai," katanya.

Menurut dia, pihaknya akan menjaga integritas dan transparansi dalam menjalankan proses impor tersebut.

Sesuai rekomendasi Tim Reformasi Tata Kelola Migas, lanjut Daniel, ISC akan membuka kesempatan kepada semua pihak termasuk pedagang (trader) yang kredibel untuk ikut dalam tender.

"Kalau pelaku bisa pasok secara langsung, kenapa mesti lewat perantara lagi. Dengan demikian, secara alamiah akan mengurangi mata rantai dan menjadi lebih efisien," ujarnya.

ISC, tambahnya, juga akan menyeleksi peserta tender lebih ketat seperti harus punya kemampuan keuangan dan fasilitas, selain kredibilitas dan integritas.

"Tata kelola juga akan lebih baik, sehingga tidak memungkinkan pemburu rente masuk," katanya.

Tim Reformasi Tata Kelola Migas Kementerian ESDM merekomendasikan pengalihan peran tender impor minyak mentah dan BBM dari Pertamina Energy Trading Limited (Petral) ke ISC Pertamina.

Selama ini, Petral melakukan impor BBM sebanyak 8-10 juta barel per bulan dan minyak mentah 10 juta barel/bulan untuk Pertamina.

Sementara, Petral direkomendasikan tim tetap berkantor di Singapura dan diarahkan menjadi perusahaan "trading" kelas dunia serta memaksimalkan fungsi intelijen pasarnya.

sumber: antaranews

Wednesday, February 4, 2015

Pertamina awards crude supply contracts under new tender body



JAKARTA Feb 3 (Reuters) - Indonesia's Pertamina has awarded contracts to several firms to supply crude to Southeast Asia's largest economy, a company director said, in the state company's first tender since the procurement system was overhauled.

Pertamina's Integrated Supply Chain (ISC) division, which handles petroleum tenders, has awarded a contract to Vitol to supply Indonesia with 1.9 million barrels of crude for April, Pertamina Marketing Director Ahmad Bambang told reporters.

Pertamina has also awarded a contract to Azeri state energy firm SOCAR to supply 1.2 million barrels of crude for April, Bambang said.

Angolan energy firm Sonangol also won a contract to supply Indonesia with 950,000 barrels of crude per month from February to June, Bambang said. It's not clear if the crude will all be Angolan production.

Pertamina is still seeking imports of 9 million barrels per month (bbls/mth) of RON88 gasoline, 1.5 million bbls/mth RON92 gasoline and 5 million bbls/mth of diesel, Bambang said. (Reporting by Wilda Asmarini; Writing by Fergus Jensen; Editing by Tom Hogue)

source: reuters.com

Ini Dia Profil Pemenang Tender Minyak Mentah ISC

Vitol, pemenang tender impor minyak ISC-Pertamina -- REUTERS/Denis Balibouse
Jakarta: Integrated Supply Chain (ISC) PT Pertamina (Persero) telah menentukan pemenang tender pengadaan minyak mentah. Mereka adalah The State Oil Company of Azerbaijan Republic (Socar) dan Vitol.

Lalu, siapakah mereka? Penelusuran Metrotvnews.com, Selasa (3/2/2015), Vitol Group merupakan perusahaan yang berbasis di Swiss. Perusahaan multinasional energi milik Belanda tersebut juga bergerak di bidang perdagangan komoditas perusahaan.

Melansir Wikipedia, perusahaan ini didirikan di Rotterdam pada 1966 oleh Henk Vietor dan Jacques Detiger, dan merupakan perusahaan swasta yang memiliki 350 karyawan yang berupa pemegang saham.

Adapun kantor pusat Vitol Group terletak di Rotterdam dan Jenewa, Swiss. Pada 2013, Vitol Group membukukan pendapatan sebesar USD307 miliar (naik dari USD303 miliar pada 2012), kapal-kapal Vitol telah menghasilkan lebih dari 270 juta ton minyak mentah per tahun dan merupakan pedagang energi independen terbesar di dunia.

Lokasi operasi utama Vitol berada di Jenewa, Houston, Singapura, dan London. Vitol Group juga bermain di bisnis perdagangan minyak mentah, yang juga menjual batu bara, natural gas, listrik, produk agrikultural, ethanol, methanol, bensin, LNG, LPG, dan emisi karbon.

Sementara perusahaan lainnya, The State Oil Company of Azerbaijan Republic (Socar), merupakan perusahaan minyak milik negara yang berkantor pusat di Baku, Azerbaijan. Socar merupakan salah satu perusahaan minyak dan gas (migas) terbesar di dunia.

Perusahaan ini terlibat dalam produksi minyak dan gas alam dari darat dan lepas pantai ladang di bagian Azerbaijan Laut Kaspia. Selain itu, perusahaan mengoperasikan dua kilang minyak di negara itu, pabrik pengolahan gas satu dan menjalankan beberapa ekspor migas ekspor di seluruh negeri.

Socar memiliki sejumlah stasiun pengisian bahan bakar di bawah merek SOCAR yang menyebar di Azerbaijan, Georgia, Ukraina, Rumania, dan Swiss. Perusahaan ini memiliki sekitar 61 ribu karyawan.

sumber: metronews.com

DPR Sarankan Pertamina Beli Minyak Mentah dari Produsen Asing

Ilustrasi kilang minyak -- FOTO: ANTARA/Yudhi Mahatma
Jakarta: Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menganggap PT Pertamina (Persero) kurang efisien dalam mengelola jual beli minyak.

Anggota DPR Komisi VII, Kurtubi, memberikan dua saran kepada Pertamina untuk mengurangi inefisiensi tersebut. Pertama, dirinya menyarankan Pertamina membeli minyak mentah langsung dari produsen di luar negeri.

"Bukan karena kilang tua yang membuat inefisien, tapi karena minyak mentah yang diimpor Pertamina overpricing. Makanya dari dulu kami sarankan Pertamina membeli minyak dari produsen bukan trader," terangnya, saat Rapat Dengar Pendapat, di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (3/2/2015).

Selanjutnya, ia menyarankan agar Pemerintah harus memperbaiki tata kelola migas, di mana bagian hulu harus dikelola oleh Pertamina.

"Sektor hulu kita balikkan lagi ke Pertamina (pengelolannya) supaya ada retensi Pertamina dari kontraktor asing. Itu akan membantu pemasukan Pertamina. Kalau sekarang dipegang SKK Migas saya rasa penggunaannya kurang jelas," bebernya.

Ia juga mengkritik kinerja SKK Migas yang menurutnya tidak memberikan hasil yang baik untuk negara. "Sejak pengelolaan sektor hulu dikelola oleh SKK Migas, pemasukan dari kontraktor jadi enggak jelas," tutupnya. 


sumber: metrotvnews.com

Vitol dan Socar Pemenang Tender ISC

Ilustrasi. Antara/Zabur Karuru
Jakarta: The State Oil Company of Azerbaijan Republic (Socar) dan Vitol menjadi pemenang tender
 pengadaan minyak mentah yang dilakukan oleh Integrated Supply Chain (ISC) Pertamina.
Direktur Pemasaran PT Pertamina (Persero) Ahmad Bambang mengatakan, Socar akan menyuplai minyak
 mentah Azeri dengan volume sebesar dua juta barel dan Vitol sebesar dua juta barel minyak mentah Nigeria.
"Ada 53 perusahaan yang ikut tender. Kemudian, sudah ditunjuk pemenangnya, yaitu Socar dan Vitol. 
Harganya sudah bagus itu," ujar Ahmad usai rapat kerja di DPR, Jakarta, Senin (2/2/2015).
Bambang menuturkan, NOC asal Azerbaijan dan Belanda tersebut telah melewati proses tender secara transparan
 selama Januari lalu. Kedua perusahaan minyak tersebut merupakan pemain tender yang menawarkan harga jual
 termurah. Rencananya, Pertamina akan menggelar konferensi pers terkait hal ini.
"Ini dibuka umum. Buktikan saja kalau lebih murah dari penawaran. Jangankan bicara tender minyak, saya tender 
konstruksi saja yang kalah ngomong bisa lebih rendah. Pertanyaannya, kenapa dia menawarkannya tidak murah,
" cetusnya.
Di kesempatan yang sama, Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto mengakui belum mengetahui laporan terbaru
 terkait hasil pemenang tender pengadaan minyak mentah tersebut.
"Prosesnya sudah berjalan, tetapi saya belum mendapat kabar terbaru, sudah diumumkan atau belum," pungkasnya.

sumber: metrotvnews.com

Sudirman Said: Soal Tender ISC, Tanya Dirut Pertamina

Sudirman Said: Soal Tender ISC, Tanya Dirut Pertamina
JAKARTA - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said mengatakan, dirinya belum mendapatkan laporan dari jajaran direksi PT Pertamina (Persero) mengenai tender pengadaan minyak mentah Pertamina melalui Integrated Supply Chain (ISC).

Tender yang minyak mentah yang dilakukan anak usaha Pertamina ini diketahui sudah mendapatkan pemenangnya, yakni Solar dengan minyak mentah Azeri sebesar 2 juta barel dan Vitol dengan minyak mentah Nigeria sebesar 2 juta barel.

"Tanyakan dong ke Dirut Pertamina, saya kan tidak menerima laporannya," kata Sudirman di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (3/2/2015).

Sudirman mengaku, sampai saat ini laporan tersebut hanya dilaporkan kepada Direktur Utama PT Pertamina (Persero) oleh pihak ISC.

Padahal, ada beberapa perusahaan yang diduga menawarkan harga lebih murah dari para pemenang tender minyak mentah yang sudah diputuskan tersebut. Namun, Sudirman masih enggan menyuarakannya lebih lanjut.

"Sudah tanya Dirut Pertamina?" tukas dia.

sumber: okezone.com

Tender Di Pertamina Tertutup, Kepala ISC Harus Dipecat

Sudirman Said. [Google]

[JAKARTA] Menteri Energi Dan Sumber Daya mineral (ESDM), Sudirman Said dinilai telah melecehkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan membuat tender di Pertamina secara tertutup.
Padahal Menteri ESDM telah membuat kebijakan untuk membenahi birokrasi bobrok di Pertamina, dengan membentuk Tim Reformasi Tatakelola Migas (TRTM) yang dipimpin Faisal Basri.


TRTM merekomendasikan, pengadaan impor minyak harus diadakan terang-benderang, dengan mengambil-alih pengadaan minyak dari Petral ke Pertamina, agar minyak langsung ke jaringan operasi atau network operation center (NOC).


"Ternyata tender pengadaan minyak Pertamina dilakukan secara sembunyi-sembunyi, tidak sesuai dengan mekanisme tatakelola yang baik, tidak akuntabel, dan tidak fair serta tergesa-gesa," kata Ketua Seknas Jokowi, Muhamat Yamin dan Ketua Umum Barisan Relawan Jokowi (BaraJP),Sihol Manullang di Jakarta Selasa (3/2).

Yamin mengungkapkan, praktik Pertamina ini berpotensi merugikan negara. Indonesia mengimpor 700 ribu barrel per hari (konsumsi 1.500 barel per hari), sebab produksi dalam negeri hanya 800 ribu barrel per hari. Nilai ini ekuivalen Rp 529 miliar per hari (asumsi harga minyak USD 60, kurs dolar Rp 12.600).

Sihol menambahkan, supaya kebijakan mafia di Pertamina dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Alam (ESDM) jangan menegasikan kebijakan Jokowi, Dirut Pertamina harus segera memecat ketua Tim Pengadaan Tender Minyak yang juga sebagai kepala Internal Supply Chain (ISC) dan dari TRTM.
"Kami meminta Menteri ESDM melanjutkan reformasi birokrasi dan tata kelola SKK Migas agar produksi/lifting minyak meningkat, dan penerimaan negara dipertahankan di kisaran USD 30 miliar," kata Yamin.


Seknas dan BaraJP juga meminta Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) segera mengadakan audit investigasi atas pengadaan tender minyak oleh Pertamina.


"Supaya terang-benderang, kami meminta Faisal Basri mempublikasikan apa saja rekomendasi yang sudah atau belum dilakukan Kemnterian ESDM," tegas keduanya.


jangan kebablasan, Seknas meminta Jokowi mengawasi setiap kebijakan Menteri ESDM, tidak boleh lagi bertentangan dengan Nawa Cita.

sumber: beritasatu.com

Pertamina Jual LNG Rp 1,1 Triliun Tanpa Izin Menteri ESDM

Pertamina Jual LNG Rp 1,1 Triliun Tanpa Izin Menteri ESDMJakarta, Sejumlah fakta menarik terungkap tatkala jajaran Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Selasa malam (20/1).

Salah satunya adalah Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM telah melayangkan surat peringatan keras kepada manajemen PT Pertamina (Persero) pada 4 Desember 2014. Surat tersebut meluncur akibat penjualan gas alam cair atau Liquefied Natural Gas (LNG) yang dilego Pertamina ke dua perusahaan asing yakni Vitol Group asal Belanda dan Glencore perusahaan energi asal Inggris.

Direktur Pengusahaan Hulu Migas Naryanto Wagimin mengatakan surat peringatan tersebut dilayangkan lantaran manajemen Pertamina telah melakukan penyimpangan terkait mekanisme penjualan dan ekspor LNG. "Sudah saya berikan tapi memang tidak diumumkan. Sebenarnya saya tidak mau ramai soal ini,” ujarnya di Jakarta, Rabu (21/1).

Dalam surat tersebut, Naryanto memperingatkan Pertamina karena telah menentukan secara sepihak harga berikut volume gas yang dijual. Padahal sesuai aturan tata niaga migas, transaksi penjualan gas harus lebih dulu diinfokan ke Satuan Kerja Khusus Pelakasana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) dan mendapatkan persetujuan dari Menteri ESDM Sudirman Said. Kegiatan ekspor ini juga seharusnya memperoleh izin eskpor dari Kementerian Perdagangan sesuai dengan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 42/M-DAG/PER/9/2009 Tentang Ketentuan Ekspor dan Impor Migas.

Lantaran Pertamina tak melakukan mekanisme tersebut, Naryanto yang sebelumnya menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Dirjen Migas pun memberi peringatan. "Setahu saya mereka menjual dua kargo gas ke dua perusahaan tadi dengan pengiriman ke Singapura. Di transaksi itu ada tandatangan (mantan) orang Pertamina," terangnya.

Harus Diusut

Fakta penyimpangan tersebut mengemuka tatkala anggota Komisi VII DPR Inas Nasrulla mempertanyakan mengenai banyaknya penyimpangan di bisnis penjualan gas domestik. Berangkat dari hal ini, dia pun mendesak pemerintah segera mengusut masalah ini.

"Penjualan gas itu harus ada surat izin alokasi dari Menteri ESDM dan mendapat rekomendasi izin ekspor dari Dirjen Migas yang diteruskan ke Kementerian Perdagangan. Nah pada 2014, Vice President LNG Pertamina telah mengekspor dua kargo tanpa izin ataupun rekomendasi dari Dirjen Migas. Artinya ada pelanggaran terhadap Peraturan Menteri Perdagangan tentang ekspor impor migas," terang Inas.

Dari data yang dia miliki, transaksi penjualan gas tersebut mencapai angka US$ 90 juta atau sekitar Rp 1,12 triliun. Meski negara tak mengalami kerugian yang besar, Inas bilang pelanggaran atas tidak dipatuhinya aturan yang termaktub dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 7 Tahun 2005 tentang Persyaratan dan Pedoman Pelaksanaan Izin Usaha Dalam Kegiatan Usaha Hilir Migas merupakan praktik yang mencoreng kapabilitas dan akuntabilitas Kementerian ESDM.

"Pelanggaran peraturan ini sangat serius karena ini aturan menteri loh. Yang perlu dipertanyakan kenapa melanggar? Apakah ada fee?" ujarnya.

Sampai berita ini diturunkan, pihak Pertamina urung memberi jawaban detil terkait surat peringatan tersebut.

"Waduh, jujur saya tidak tahu. Bisa tolong cek ke Integrated Supply Chain (ISC) atau Bu Yenni,” ujar Direktur Pemasaran Pertamina Ahmad Bambang.

sumber: cnnindonesia.com

Beli Minyak Trader Belanda, Pertamina Dinilai Tak Efisien

Beli Minyak Trader Belanda, Pertamina Dinilai Tak EfisienJakarta, PT Pertamina (Persero) memastikan dalam waktu dekat akan mengimpor minyak dari Belanda dan Azerbaijan sebanyak 4 juta barel. Kepastian tersebut diperoleh usai divisi pengadaan minyak Pertamina atau Integrated Supply Chain (ISC) menyelesaikan tender pengadaan minyak yang dimenangkan oleh dua perusahaan asal negara tersebut.

Direktur Pemasaran Ahmad Bambang menyebutkan, dua perusahaan yang dimaksud adalah Vitol Group asal Belanda dan BUMN minyak asal Azerbaijan bernama State Oil Company of Azerbaijan Republic (Socar) yang masing-masing akan mengirimkan minyak 2 juta barel.

"Sudah tender dengan transparan. Ada 53 perusahaan yang ikut kemudian sudah ditunjuk pemenangnya yakni Socar dan Vitol," ujar Bambang di Komisi VII DPR, Senin (2/2).

Yang menarik, meski ISC sebagai divisi pengadaan minyak Pertamina diklaim telah secara transparan menggelar proses tender, Bambang enggan membeberkan harga minyak yang harus dibayar Pertamina untuk menebus minyak dari kedua perusahaan tersebut.

Begitu pun dengan Vice President ISC Daniel Purba yang sampai berita ini diturunkan belum menjawab pertanyaan CNN Indonesia.

"Harga sesuai dengan dimuka umum. Minggu ini diusahakan untuk kita umumkan melalui konferensi pers," ujar Bambang.

Tak Efisien

Mendengar ditetapkannya perusahaan asal Belanda dan Azerbaijan sebagai pemenang tender 4 juta barel minyak, Anggota Komisi VII DPR Kurtubi menuding pengadaan tender yang dilakukan ISC Pertamina tidak efisien.

Sebab menurut Kurtubi, Vitol dikenal sebagai salah satu perusahaan trader bukan National Oil Company (NOC) layaknya Socar yang merupakan produsen langsung minyak tersebut.

"Walaupun mereka klaim tender sudah dilakukan secara transparan tapi tetap saja tidak efisien. Makanya saya dorong agar Pertamina melakukan pembelian langsung ke produsen minyak yang NOC. Kan tinggal koordinasi saja agar pembelian bisa dipayungi kerjasama bilateral," ujar Kurtubi.

Sebagai catatan, minyak yang dibeli dari Vitol dikabarkan berasal dari Nigeria, sedangkan pasokan dari Socar merupakan minyak lepas pantai dari blok Azeri yang ada di Azerbaijan.

sumber: cnnindonesia.com

ISC Pertamina Diminta Terbuka dalam Tender Minyak

ISC Pertamina Diminta Terbuka dalam Tender Minyak
JAKARTA - Pengamat energi dari ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro meminta Integrated Supply Chain (ISC) Pertamina terbuka kepada publik dalam proses tender crude oil atau minyak mentah.

Dia menilai proses tender terkesan dilakukan secara tertutup. "Semangatnya harus terbuka. Bukan hanya kepada Petral dan NOC lainnya, kepada publik juga harus terbuka," ujar Komaidi dalam rilisnya, Minggu (1/2/2015).

Menurutnya, jika ISC Pertamina melakukan tender terbuka, maka harus diumumkan di media atau paling tidak ada website online yang menyebutkan mereka punya kerjaan dengan spesifikasi yang lengkap.

"Kalau keadaannya seperti itu, ISC Pertamina tidak lebih buruk dari Petral," imbuhnya.

Proses tender perdana crude oil ISC Pertamina di bawah pimpinan Daniel Purba dilakukan pada 27 Januari lalu. Tender pengadaan minyak itu sendiri diketahui untuk memenuhi kebutuhan minyak dalam negeri periode April 2015.

Setidaknya, ada dua jenis minyak mentah sebanyak 4 juta barel yang ditenderkan ISC Pertamina, yakni minyak dari Azeri-Azerbaijan dan Qua Iboe/bonny light-Nigeria, informasi yang beredar ada peserta tender yang bukan NOC dimenangkan meski tidak memiliki penawaran terendah.

Hal ini sangat jauh dari rekomendasi Tim Reformasi Tata Kelola Migas (RTKM) pimpinan Faisal Basri yang menekankan transparansi dalam reformasi migas dianggap tidak menyentuh esensi permasalahan tata kelola minyak dan gas bumi Indonesia.

Menurutnya, rekomendasi yang diajukan Faisal Basri cs masih bersifat makro dan tidak memiliki usulan-usulan yang dirinci secara jelas.

"Seharusnya rekomendasi Tim RTKM bersifat teknis. Saya kira apa yang diajukan tim tersebut hanya replika saja," ujarnya.

Selain itu, lanjut Komaidi, anggota Tim RTKM sendiri dinilai tidak paham dengan permasalahan utama terhadap pengelolaan sumber daya yang seharusnya menguntukan bagi rakyat Indonesia.

"Kalau di bidangnya masing-masing mereka (anggota Tim RTKM) memang kompeten. Tapi, saya kira mereka perlu belajar lagi," tandasnya

sumber: sindonews.com

Dwi Belum Terima Pemenang Tender Minyak ISC Pertamina

Dwi Belum Terima Pemenang Tender Minyak ISC Pertamina
JAKARTA - Direktur Utama (Dirut) PT Pertamina (Persero) Dwi Soetjipto mengaku belum menerima laporan terbaru soal hasil pemenang tender pengadaan minyak mentah yang dilakukan Integrated Supply Chain (ISC) Pertamina.

Diberitakan sebelumnya, tender crude oil pertama sekali dilakukan ISC Pertamina yang prosesnya terkesan sangat tertutup tersebut kabarnya telah menghasilkan pemenang tender yaitu Socar dengan minyak mentah Azeri sebesar 2 juta barel dan Vitol dengan minyak mentah Nigeria sebesar 2 juta barel.

"Prosesnya sudah berjalan tapi saya belum dapat update terbaru, apakah sudah diumumkan atau belum," kata dia saat ditemui di gedung DPR RI, Jakarta, Senin (2/2/2015).

Mantan bos besar PT Semen Indonesia Tbk itu menjelaskan, tender tersebut merupakan tender terbuka dan bukan tender tertutup. Dwi pun mengakui proses tendernya cukup transparan.

"Itu tender yang terbuka kok, transparan itu. Informasinya lewat media ada," singkatnya sambil berlalu.

Sementara, Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Ahmad Bambang mengakui bahwa proses tender sudah dilaksanakan dan menghasilkan dua pemenang yakni Socar dengan minyak mentah Azeri sebesar 2 juta barel dan Vitol dengan minyak mentah Nigeria sebesar 2 juta barel.

"ISC kemarin sudah melakukan tender, ada 53 perusahaan yang ikut. Kemudian sudah ditunjuk pemenangnya yaitu Socar dan Vitol. Harganya udah bagus itu," ujar Ahmad.

sumber: sindonews.com

Ada Mafia Migas Baru di Pertamina


Sepertinya ada mafia migas baru dalam sistem tender crude oil lewat ISC (Intergrated Supply Chain ) Pertamina . Hal ini diungkapkan
Tri Widodo Sakmekto, Wakil Ketua Umum FSP BUMN Bersatu, dalam rilis yang diterima redaksi Rakyat Merdeka Online Sumsel, Selasa (3/2).

Tri menjelaskan, sistem yang tidak transparan ke publik akhirnya menetapkan  dua perusahaan trader crude oil  yaitu Vitol yang bermarkas di Geneva dan terdaftar di negara Belanda dan Socar juga bermarkas di Swiss dengan memasok Azeri Crude .Kedua Perusahaan trader ini juga beroperasi di Singapura, tidak ada bedanya dengan Petral yang merupakan anak perusahaan Pertamina yang juga bisa melakukan trading crude oil .

Vitol dan Socar bahkan tidak mempunyai ladang minyak, mereka hanya menjadi trader dari perusahaan perusahaan yang mempunyai ladang minyak yang berada di Rusia , Middle East ,Afrika Tengah dan Azerbaijans

"Itupun biasa dilakukanPetral untuk menjual Crude Oil ke Pertamina .
Vitol dan Socar jelas tidak memberikan keuntungan bagi Pertamina sedangkan Petral memberikan keuntungan bagi Pertamina. Dengan membeli langsung dari Vitol dan Socar  Pertamina harus menyiapkan dana setiap hari sebesar 100 juta US Dollar cash yang harus disediakan oleh 3 Bank BUMN yaitu Bank Mandiri , BNI dan BRI ," paparnya.

Sementara ketiga Bank BUMN hanya sanggup meyediakan 20 juta US Dollar perhari sebesar

"Dengan demikian Pertamina harus mencari kekurangan likuiditas US Dollarnya melalui perbankan lainnya dengan bunga cukup tinggi. Berbeda dengan trading melalui Petral, Pertamina tidak harus menyediakan dollar per hari karena Petral punya fasiltas pengunaan LC dari bank bank di luar negeri," bebernya pula.

sumber: rmol.co

Diduga Ada Mafia dalam Sistem Tender Tender Crude Oil Lewat ISC

Diduga Ada Mafia dalam Sistem Tender Tender Crude Oil Lewat ISC
JAKARTA, Sepertinya ada mafia migas baru dalam sustim tender crude oil lewat ISC (Intergrated Supply Chain ) Pertamina. Sebab, engan sistim tender yang tidak transfaran ke publik akhirnya dua perusahaan trader crude oil yaitu Vitol yang bermarkas di Geneva dan terdaftar di negars Belanda dan Socar juga bermarkas di Swiss dengan memasok Azeri Crude.

Demikian disampaikan oleh Wakil Ketua Umum FSP BUMN Bersatu, Tri Widodo Sakmekto dalam siaran pers yang diterima SOROTnews.com, Selasa (3/2/2015).

"Kedua Perusahaan trader ini juga beroperasi di Singapore tidak ada bedanya dengan Petral yang merupakan anak perusahaan Pertamina yang juga bisa melakukan trading crude oil," ujarnya.

Menurut Widodo,  Vitol dan Socar pun tidak mempunyai ladang minyak. Keduanya  hanya menjadi trader dari perusahaan perusahaan yang mempunyai ladang minyak yang berada di Rusia , Middle East ,Afrika Tengah dan Azerbaijans dan  itupun biasa dilakukan oleh Petral untuk menjual Crude Oil ke Pertamina.

Kata Widodo, Vitol dan Socar jelas tidak memberikan keuntungan bagi Pertamina sedangkan Petral memberikan keuntungan bagi Pertamina Dengan membeli langsung dari Vitol dan Socar.

"Setiap hari Pertamina harus menyiapkan dana setiap hari sebesar 100 juta dollar cash yang harus disediakan oleh 3 Bank BUMN yaitu Bank Mandiri , BNI dan BRI .
Sementara ketiga Bank BUMN hanya sanggup meyediakan US Dollar perhari sebesar 20 juta US dollar karena ketiga bank BUMN tersebut juga harus melayani corporasi lainnya yang memerlukan US Dollar untuk kebutuhan import dan belanja barang modal,"jelasnya.

"Dengan demikian Pertamina harus mencari kekurangan likuiditas US dollarnya melalui perbankan lainnya yang bunga cukup tinggi,"tambahnya.

Lanjut Widodo, berbeda dengan trading melalui Petral, Pertamina tidak harus meyediakan mata uang US dollar sebesar 100 juta US dollar perhari karena Petral punya fasiltas pengunaan LC dari bank bank di luar negeri

"Karena itu Trading Crude oil melalui ISC harus ditinjau kembali dan mengizikan Petral untuk kembali memasok crude oil ke Pertamina,"pungkasnya.

sumber: sorotews.com

ISC Pertamina Dicap Berikan Contoh Buruk


JAKARTA - Pengamat Energi dari Reforminer, Komaidi Notonegoro mempertanyakan proses tender perdana 'Crude Oil' ISC-Pertamina yang terkesan dilakukan secara tertutup dan tidak transparan.

Ia menyatakan ISC Pertamina memberikan contoh yang buruk. "Semangatnya harus terbuka. Kepada publik juga harus terbuka," kata Komaidi melalui keterangan pers, Minggu, (1/2).

Jika keadaannya seperti itu, lanjut Komaidi, dia menganggap kinerja ISC-Pertamina tidak lebih baik dari Petral. Menurutnya, Petral bisa lebih terbuka saat melakukan proses tender.

Jika ISC-Pertamina melakukan tender terbuka, kata dia, seharusnya diumumkan di media massa atau paling tidak di website khusus yang menyebutkan ada pengerjaan tender dengan spesifikasi yang lengkap.

"Kalau keadaannya seperti itu, ISC-Pertamina tidak lebih baik dari Petral," tegasnya.

Seperti diketahui proses tender perdana 'Crude Oil'  ISC-Pertamina di bawah pimpinan Daniel Purba dilakukan pada 27 Januari lalu. Tender pengadaan minyak itu sendiri diketahui untuk memenuhi kebutuhan minyak dalam negeri periode April 2015. Setidaknya ada dua jenis minyak mentah sebanyak empat juta barel yang ditenderkan ISC-Pertamina, yakni minyak dari Azeri - Azerbaijan dan Qua Iboe/bonny light -Nigeria, informasi yang beredar ada peserta tender yang bukan NOC dimenangkan meskipun tidak memiliki penawaran terendah.

Kesan ditutupi ini berbeda dengan rekomendasi Tim Reformasi Tata Kelola Migas (RTKM) pimpinan Faisal Basri yang menekankan transparansi dalam reformasi migas

Dalam hal ini, Komaidi menilai rekomendasi yang diajukan Faisal Basri cs masih bersifat makro dan tidak memiliki usulan-usulan yang dirinci secara jelas.

Selain itu, lanjutnya, anggota Tim RTKM dinilai tidak paham dengan permasalahan utama terhadap pengelolaan sumber daya yang seharusnya menguntungkan bagi rakyat Indonesia.

"Seharusnya rekomendasi Tim RTKM bersifat teknis. Saya kira apa yang diajukan tim tersebut hanya replika saja. Kalau di bidangnya masing-masing mereka (anggota Tim RTKM) memang kompeten. Tapi, saya kira mereka perlu belajar lagi," tandasnya.

kaltengpos.web.id

Proses tender perdana pengamat minta isc pertamina harus transparan

Proses Tender Perdana, Pengamat Minta ISC Pertamina Harus Terbuka Pada PublikJakarta,  Pengamat energi dari Reforminer Komiadi Notonegoro, mempertanyakan proses tender perdana 'Crude Oil' ISC-Pertamina yang terkesan dilakukan secara tertutup dan tidak transparan. "Semangatnya harus terbuka. Bukan hanya kepada Petral dan NOC lainya, kepada publik juga harus terbuka," kata Komaidi saat dihubungi wartawan, seperti dikutip dalam Tribunnews.com, Senin (02/02).


Menurutnya, jika keadaannya seperti itu maka kinerja ISC-Pertamina tidak lebih baik dari Petral. Menurutnya, Petral bisa lebih terbuka saat melakukan proses tender. Untuk itu dirinya meminta ISC-Pertamina melakukan tender terbuka, maka harus diumumkan di media atau paling tidak ada website online yang menyebutkan mereka punya kerjaan dengan spesifikasi yang lengkap.


Diketahui, proses tender perdana 'Crude Oil' ISC-Pertamina dibawah pimpinan Daniel Purba yang dilakukan pada 27 Januari lalu. Tender pengadaan minyak itu sendiri diketahui untuk memenuhi kebutuhan minyak dalam negeri periode April 2015. Setidaknya ada dua jenis minyak mentah sebanyak empat juta barel yang ditenderkan ISC-Pertamina, yakni minyak dari Azeri-Azerbaijan dan Qua Iboe/bonny light-Nigeria, informasi yang beredar ada peserta tender yang bukan NOC dimenangkan meskipun tidak memiliki penawaran terendah.


Hal ini sangat jauh Rekomendasi Tim Reformasi Tata Kelola Migas (RTKM) pimpinan Faisal Basri yang menekankan transparansi dalam reformasi migas dianggap tidak menyentuh esensi permasalahan tata kelola minyak dan gas bumi Indonesia. Lebih lanjut dikatakan Komaidi, rekomendasi yang diajukan Faisal Basri Cs masih bersifat makro dan tidak memiliki usulan-usulan yang dirinci secara jelas. Selain itu, lanjutnya, anggota Tim RTKM sendiri dinilai tidak paham dengan permasalahan utama terhadap pengelolaan sumber daya yang seharusnya menguntukan bagi rakyat Indonesia.

sumber: energtoday.com

Setiap Tender Minyak Harus Diumumkan ke Publik

 

Anggota Komisi VII DPR RI Satya Widya Yudha mendesak, PT. Pertamina (Persero) dan Integrated Supply Chain (ISC) untuk menjelaskan secara rinci tender perdana crude oil, yang sedianya dilakukan pada 27 Januari 2015, pasalnya menurut kader dari partai Golkar tersebut, tender tersebut tidak transparan.

"ISC dibawah pimpinan Daniel Purba sudah seharusnya mengumumkan kepada publik terkait bagaimana mekanisme tender minyak mentah, berapa jumlahnya, bagaimana teknisnya," ujarnya, di Jakarta, Senin (2/2).

Menurut Satya, proses tender mulai dari pengumuman pemenang justru tidak terbuka, ini justru berbeda dengan pernyataan Kepala Tim Reformasi Tata Kelola Migas, Faisal Basri. "ISC-Pertamina harusnya transparan, kepada publik soal tender minyak mentah. Karena isu ini, adalah isu sensitif dan berpotensi menggerus keuangan negara," kata Satya.

Satya menambahkan, pengumuman seharusnya dilakukan secara terbuka dengan melibatkan media atau website online yang bisa di akses publik. Berbeda jika tender tertutup, karena hanya berdasarkan undangan masing-masing kontraktor.

Hal senada dikatakan Direktur Energy Wacth Indonesia, Ferdinand Hutahaean. Selama dirinya menyoroti proses tender, ia tidak melihat adanya keterbukaan kepada masyarakat. Kedua perusahaan itupun diminta untuk transparan mengenai tender pengadaan minyak mentah.

"Penting bagi ISC-Pertamina untuk melakukan transparansi atau keterbukaan informasi tentang pengadaan minyak. Saat ini ada dua hal yang paling krusial untuk dibuka secara jujur ke publik, yaitu terkait tender minyak mentah perdana ISC dan perjanjian kerjasama dengan Sonangol," ujar, dalam keterangannya di Jakarta.

Menurutnya, dua hal tersebut menjadi sangat penting karena akan menjadi barometer utama bagi publik tentang kinerja ISC dan Tim Reformasi Tata Kelola Migas yang dipimpin Faisal Basri.

"Saat ini, ISC-pertamina tidak ada keterbukaan terkait volume crude oil yang hendak diimpor, siapa peserta tendernya, mekanisme dan apa saja syarat yang ditentukan," tegasnya.

Dia menambahkan, jika ISC-Pertamina masih tertutup seperti ini, artinya tidak ada perubahan sama sekali. Dan ini bisa menjadi bukti sah, bahwa selama ini tim Faisal Basri hanya memindahkan tempat bermain mafia.

Selain itu, Ferdinand mengatakan, proses tender minyak mentah Pertamina yang dilakukan ISC ini belum mengumumkan pemenang tender ke publik hingga saat ini. Dia menilai, proses tender keduanya terkesan tertutup dan tidak transparan.

Diketahui, tender itu untuk memenuhi kebutuhan minyak mentah periode bulan April 2015, dan terdapat dua jenis minyak yaitu 4juta barel untuk jenis Azuri dan Qua Iboe-Nigeria.

sumber: indopetronews.com

Tuesday, February 3, 2015

KPK dan KPPU Harus Periksa Tender Minyak ISC Pertamina

Jakarta,Federasi Serikat Pekerja (FSP) Bersatu BUMN meminta KPK dan KPPU (Komisi Komisi Pengawas Persaingan Usaha) turun tangan memeriksa proses tender crude oil Integrated Supply Chain (ISC) Pertamina yang dilakukan secara tertutup.

Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum FSP BUMN Bersatu Tri Widodo yang juga menegaskan bahwa target pemberantasan mafia migas oleh pemerintahan Jokowi- JK akan gagal, karena selama ini hanya mengganti kartel mafia migas saja.

"Karena sistemnya sama saja, hanya berbeda pada vehicle yang digunakan. Kalau sebelumnya tender impor pengadaan minyak dilakukan di luar negeri (Singapura oleh Petral), sekarang di dalam negeri oleh ISC Pertamina," papar Tri kepada wartawan di Jakarta, Minggu (1/2/2014) kemarin.

Menurut Tri, hal itu tercermin dari tertutupnya proses tender pembelian crude oil oleh ISC Pertamina, serta perlakuan diskriminasi terhadap peserta tender yang ditenggarai karena adanya persekongkolan untuk memenangkan pihak tertentu. "Jika seperti ini yang terjadi di ISC, maka negara dan rakyat akan dirugikan trilyunan rupiah lagi," tukasnya.

Tri menduga ada kejanggalan dalam proses tender impor minyak mentah ISC-Pertamina pimpinan Daniel Purba. Sebab tender tersebut dimenangkan oleh trader yang bukan National Oil Company (NOC), bahkan trader itu tidak mengajukan penawaran harga terendah.

Dijelaskannya pula, impor crude oil itu akan diolah menjadi BBM premium dan solar yang masih disubsidi pemerintah. "Artinya ada pengunaan dana yang berasal dari APBN untuk membeli crude oil tersebut," imbuh Tri.

Karena itu proses tender crude oil ISC Pertamina yang memenangkan Sonagol EP, menurut Tri jelas melanggar Kepres No.80 tahun 2003 tentang pedoman pelaksanaan  pengadaan barang dan jasa pemerintah, serta melanggar  Permeneg BUMN No.5 tahun 2008 tentang pedoman  pelaksanaan pengadaan barang dan jasa di BUMN. "Di dalam Kepres dan Kemeneg itu juga disebutkan pentingnya aspek transparan dan perlakuan adil kepada semua peserta tender," imbuh Tri.

Ia lantas menyinggung penunjukan langsung Sonangol EP yang pada November 2014 lalu Sonangol EP dan Sociedade Nacional de Combustiveis de Angola EP telah membuat MoU dengan Presiden Jokowi terkait ekspor minyaknya ke Indonesia. "Ada kebohongan publik disini, padahal informasi awal yang disampaikan kepada publik akan ada diskon khusus. Tapi kenyataannya skema yang digunakan tetap B to B, bukannya G to G," ungkap Tri.

Karena itu FSP BUMN Bersatu kata Tri menenggarai ada ketidakberesan dalam proses tender pengadaan minyak mentah oleh ISC Pertamina yang memenangkan Sonangol EP dan berpotensi merugikan negara.

"Karena itu kami FSP BUMN mendesak KPPU untuk memeriksa dugaan  persekongkolan tender antara Sonagol EP dengan ISC yang diduga diprakasai Surya Paloh.

Selain itu Kejaksaan Agung dan KPK harus segera menyelidiki persekongkolan pengadaan crude oil ISC dan Sonangol yang disinyalir adanya bagian fee gelap kepada oknum di ISC," pungkas Tri Widodo.

sumber: seru.com

IEW: TENDER MINYAK ISC PERTAMINA LEBIH BURUK DARI PETRAL

PertaminaProses tender perdana ‘crude oil’ ISC Pertamina pada tanggal 27 Januari beberapa hari kemarin berlangung tertutup, publik tidak sama sekali mengetahui proses tender yang diadakan oleh ISC pertamina tersebut. tender pengadaan minyak itu sendiri diketahui untuk memenuhi kebetuhan minyak dalam negeri.

“Ada dua jenis minyak mentah yang ditenderkan ISC Pertamina, yaitu dari Qua Iboe/bonny light-Nigeria dan Azeri-Azrbaijan berkisar 4 juta barel, dan yang binkin miris ialah dari informasi yang berkembang peserta tender yang bukan NOC dimenangkan meski tidak memiliki penawaran terendah. Hal ini sangat bertentangan dengan apa yang diputuskan Tim Reformasi Tata Kelola Migas (RTKM) yang dikomandoi oleh ekonom Faisal Basri yang justru menekankan pada aspek transparansi pengelolaan migas dan sangat tidak menyentuh subtansi permasalahan tata kelola minyak dan gas bumi Indonesia,” ujar Direktur Eksekutif Indonesia Energy Watch, Syarief Rahman Wenno kepada wartaharian.co, Senin (02/02/15).

Seperti diduga sebelumnya, lanjutnya, salah satu poin rekomendasi Tim Reformasi Tata Kelola Migas (RTKM) yang memangkas kewenangan Petral dan mengalihkannya dari Pertamina Energy Trading Limited (PETRAL) ke Integrated Supply Chain (ISC), terkait pengalihan peran impor crude oli dan BBM hanya sebuah kamuflase dan akal-akalan semata. ada kejanggalan dalam proses tender impor minyak mentah ISC-Pertamina. Sebab tender tersebut dimenangkan oleh trader yang bukan National Oil Company (NOC), bahkan trader itu tidak mengajukan penawaran harga terendah.

“Dari sekian rekomendasi Tim Reformasi Tata Kelola Migas (RTKM) yang esensinya adalah memutus mata rantai permainan mafia migas lewat ditiadakan peran trader dalam proses impor BBM dan crude oil dalam memenuhi quota konsumsi BBM dalam negeri, sangat kontra produktif dengan apa yang lakukan sekarang, jauh panggang dari api. Apa yang bisa kita banggakan dari aksi perdana ISC Pertamina anak binaan RTKM ini? Yang ada hanyalah memindahkan area bermain mafia migas dari Petral ke ISC. Dan yang mustahil lagi sampai dengan saat ini tak kunjung diumumkan pemenang tender minyak mentah Pertamina melalui Integrated Supply Chain (ISC),” papar dia lagi.

Sangat disayangkan permainan-permainan terselubung ini kembali dipraktekkan tanpa ada transparan ke publik. Setidaknya proses ini harus diumumkan lewat website pertamina atau melibatkan media dalam proses tender. Jika aksi ini dibiarkan berlangsung maka pemberantasan mafia migas yang digalahkan pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla lewat pembentukan tim anti mafia migas dengan berbagai rekomendasi tidak memberikan solusi yang efektif dan berbuntungagal. Apalagi kita tahu bahwa rekomendasi Tim Reformasi Tata Kelola Migas tidak berbicara secara spesifik mengenai esensis permasalahan migas di Indonesia.

“Mumpung belum terlambat, masih ada empat tahun lagi bagi pemerintahan Jokowi untuk mengevalusi dan memperbaiki kondisi hilir migas yang syarat dengan konflik interest. Idealnya adalah pengadaan impor migas dan BBM harus langsung melibatkan NOC bukan trader.  Nah, dalam proses tender yang baru selesai ini KPK dan KPPU (Komisi Komisi Pengawas Persaingan Usaha) harus turun tangan memeriksa proses tender crude oil Integrated Supply Chain (ISC) Pertamina yang dilakukan secara tertutup, sebab impor crude oil itu akan diolah menjadi BBM premium dan solar yang masih disubsidi pemerintah, artinya ada pengunaan dana APBN untuk membeli crude oil tersebut,” pungkasnya.

sumber: wartaharian.com

KPPU dan KPK Harus Usut Proses Tender Crude Oil ISC Pertamina

Sam Pa adalah kawan dekat Surya Paloh Ketua Umum Nasdem yang menjadi pintu masuk ke Pertamina.

JAKARTA, Target pemberantasan mafia migas oleh pemerintahan Jokowi- JK akan gagal dan hanya akan ganti kartel mafia migas saja.

Hal ini tercermin dengan proses tender pembelian crude oil oleh Pertamina yang menggunakan Integrated Supply Chain (ISC) yang tidak transparan serta perlakuan diskriminasi terhadap peserta dan pengaturan serta persekongkolan tender oleh ISC dalam proses tendernya.

"Jika sepert ini yang terjadi di ISC maka sudah dipastikan negara dan rakyat akan dirugikan trilyunan rupiah lagi," tegas Wakil Ketua Umum FSP BUMN Bersatu, Tri Widodo

Ia mensinyalir ada kejanggalan dalam proses tender impor minyak mentah oleh ISC yang memenangkan Sonangol EP dimana pada november 2014 Sonangol EP atau Sociedade Nacional de Combustiveis de Angola EP, telah meneken kerja sama dengan Presiden Joko Widodo untuk mengekspor minyaknya ke Indonesia.

Salah satu pemilik Sonangol, Sam Pa adalah kawan dekat Surya Paloh Ketua Umum Nasdem yang menjadi pintu masuk ke Pertamina


sumber: jaringnews.com

Tender Minyak ISC Pertamina Lebih Buruk dari Petral


Yang ada hanyalah memindahkan area bermain mafia migas dari Petral ke ISC. Dan yang mustahil lagi sampai dengan saat ini tak kunjung diumumkan pemenang tender minyak mentah Pertamina melalui Integrated Supply Chain (ISC).

JAKARTA, Jaringnews.com - Proses tender perdana ‘crude oil’ ISC Pertamina pada 7 Januari lalu berlangung tertutup. Publik tidak sama sekali mengetahui proses tender yang diadakan oleh ISC pertamina tersebut. Tender pengadaan minyak itu sendiri diketahui untuk memenuhi kebetuhan minyak dalam negeri.

Ada dua jenis minyak mentah yang ditenderkan ISC Pertamina, yaitu dari Qua Iboe/bonny light-Nigeria dan Azeri-Azrbaijan berkisar 4 juta barel.

"Yang bikin miris ialah dari informasi yang berkembang peserta tender yang bukan NOC dimenangkan, meski tidak memiliki penawaran terendah. Hal ini sangat bertentangan dengan apa yang diputuskan Tim Reformasi Tata Kelola Migas (RTKM) yang dikomandoi oleh ekonom Faisal Basri yang justru menekankan pada aspek transparansi pengelolaan migas dan sangat tidak menyentuh subtansi permasalahan tata kelola minyak dan gas bumi Indonesia," kritik Direktur Eksekutif Indonesia Energy Watch (IEW), Syarief Rahman Wenno.

"Seperti yang kami duga sebelumnya, salah satu poin rekomendasi Tim Reformasi Tata Kelola Migas (RTKM) yang memangkas kewenangan Petral dan mengalihkannya dari Pertamina Energy Trading Limited (PETRAL) ke Integrated Supply Chain (ISC), terkait pengalihan peran impor crude oli dan BBM hanya sebuah kamuflase dan akal-akalan semata."

Ia mensinyalir ada kejanggalan dalam proses tender impor minyak mentah ISC-Pertamina. Sebab tender tersebut dimenangkan oleh trader yang bukan National Oil Company (NOC), bahkan trader itu tidak mengajukan penawaran harga terendah.

Dari sekian rekomendasi Tim Reformasi Tata Kelola Migas (RTKM) yang esensinya adalah memutus mata rantai permainan mafia migas lewat ditiadakan peran trader dalam proses impor BBM dan crude oil dalam memenuhi quota konsumsi BBM dalam negeri, sangat kontra produktif dengan apa yang lakukan sekarang, jauh panggang dari api.

"Apa yang bisa kita banggakan dari aksi perdana ISC Pertamina anak binaan RTKM ini? Yang ada hanyalah memindahkan area bermain mafia migas dari Petral ke ISC. Dan yang mustahil lagi sampai dengan saat ini tak kunjung diumumkan pemenang tender minyak mentah Pertamina melalui Integrated Supply Chain (ISC)."

Sangat disayangkan permainan-permainan terselubung ini kembali dipraktekkan tanpa ada transparan ke publik. Setidaknya proses ini harus diumumkan lewat website Pertamina atau melibatkan media dalam proses tender.

"Jika aksi ini dibiarkan berlangsung maka pemberantasan mafia migas yang digalahkan pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla lewat pembentukan tim anti mafia migas dengan berbagai rekomendasi tidak memberikan solusi yang efektif dan berbuntungagal."

"Apalagi kita tahu bahwa rekomendasi Tim Reformasi Tata Kelola Migas tidak berbicara secara spesifik mengenai esensis permasalahan migas di Indonesia."

Ia pun berpendapat, mMumpung belum terlambat, masih ada empat tahun lagi bagi pemerintahan Jokowi untuk mengevalusi dan memperbaiki kondisi hilir migas yang syarat dengan konflik interest. Idealnya adalah pengadaan impor migas dan BBM harus langsung melibatkan NOC bukan trader.

Nah, dalam proses tender yang baru selesai ini KPK dan KPPU (Komisi Komisi Pengawas Persaingan Usaha) harus turun tangan memeriksa proses tender crude oil Integrated Supply Chain (ISC) Pertamina yang dilakukan secara tertutup, sebab impor crude oil itu akan diolah menjadi BBM premium dan solar yang masih disubsidi pemerintah, artinya ada pengunaan dana APBN untuk membeli crude oil tersebut.

sumber: jaringnews.com