Dirinya mengakui informasi yang didapat tidak jelas, apakah impor minyak mentah dari Sonangol EP atau Sonangol China. kalau impor melalui Sonangol China berarti ada broker lagi. Padahal yang kita tahu, setiap ada broker berarti ada biaya tambahan bagi Indonesia, begitu juga mengenai tender crude oil yang dilaksanakan ISC Pertamina, Menurut Kardaya, Menteri ESDM Sudirman Said dan VP ISC Pertamina Daniel Purba harus transparan dalam pembelian impor minyak. Seperti janjinya dalam reformasi migas sebelumnya.
Berdasarkan informasi yang beredar Tender minyak mentah ISC Pertamina untuk periode bulan April 2015, tidak terbuka dan terkesan di tutupi, bahkan belum diumumkan pemenangnya. Diduga masih terjadi tarik menarik antar kepentingan di dalamnya. Diduga ada "conflict of Interest" berusaha memenuhi pesanan untuk memenangkan perusahaan tertentu, meski penawaran nya jauh diatas rata-rata, Hal tersebut nantinya akan terlihat dari harga pemenang tender yg tidak termurah. Tender awal kali ini sangat sulit karena harga yg masuk masuk dari perusahaan "pesanan" tidak kompetitif sementara pihak yang berkepentingan sudah memberikan pesanan untuk memenangkan perusahaan tertentu.
ISC Pertamina khususnya Daniel Purba harus memegang prinsip transparan, umumkan penawar dengan harganya, beli dengan harga termurah, jangan main akal akalan dengan bicara metode pembelian atau perhitungan yg kompleks, harus masuk akal publik "Secara organisasi ISC berada di dalam Pertamina. Artinya, kalau mereka tidak transparan itu bertentangan dengan janji Menteri ESDM Sudirman Said dan Dirut Pertamina Dwi Soetjipto bahkan rekomendasi Tim Reformasi Migas yang dipimpin Faisal Basri", tegas Kardaya.
sumber: mediaindonesia.com
No comments:
Post a Comment